Kanker payudara merupakan penyakit penyebab kematian nomor dua bagi perempuan di dunia setelah kanker mulut rahim. Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali. Selain itu, kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma.
Keberadaan ‘kanker payudara’ menimbulkan rasa takut yang luar bisa bagi kaum perempuan, selain keganasannya yang tanpa ampun, kanker ini kerap datang tiba-tiba tanpa permisi. Hal itu juga yang dirasakan oleh Ibu Wachyuddin ketika ia mengetahui bahwa dirinya menderita kanker payudara. Ibu Wachyuddin yang bermukim di kota Bogor ini tidak mengalami keanehan khusus di dalam tubuhnya. Semua berjalan seperti biasanya. Pada masa itu, ia tetap aktif menjalankan usahanya di Kalimantan Timur. Paling hanya mengalami kelelahan, karena perjalanan bisnis Jakarta, Bogor, dan Kalimantan Timur. Dia harus melakukan perjalanan ini karena telah menandatangani kontrak bisnis katering untuk melayani sebuah perusahaan. Dia sangat terkejut ketika seorang temannya mengatakan, bahwa benjolan yang dikeluhkan Ibu Wachyuddin adalah kanker. Menurut temannya, keluhan serupa pernah pula dialaminya ketika menderita penyakit kanker payudara.
Dalam kasus Ibu Wachyuddin kanker payudaranya ditandai dengan sekujur lengan, bagian ketiak hingga hingga sekitar payudara dan putting susu sebelah kiri mengeras. Maksudnya, seperti yang diceritakan Ibu Wachyuddin, adalah mengeras seperti batu yang membenjol sebesar telur ayam di dalam payu daranya. Tapi benjolan ini tidak sakit ketika ditekan. Salah satu dokter senior di bidang penyakit ini mengatakan kondisi tubuh Ibu Wachyuddin sebenarnya cukup sehat. “Jadi harus dipertahankan, sehingga untuk sementara tidak perlu di operasi”.Seorang dokter lain yang praktek di Bogor mengatakan, penyakit ini bisa diatasi dengan cara 50% operasi dan 50% minum obat hasil racikan dari dokter itu sendiri. Dikatakan, kalaupun dioperasi belum tentu sembuh karena kankernya sudah besar. “ Kalau dengan cara ini, saya lebih baik cari obat lain, “ gumam dalam hati Ibu Wachyuddin menanggapi saran dokter itu. Akhirnya Ibu Wachyuddin memang mengusahakan sendiri dalam proses pemulihan kesehatannya. Akan saya cari terus sampai ketemu obat yang cocok katanya. Tapi lama kelamaan kondisi fisiknya semakin lemah. Wajahnya pucat, bernapas sering sesak, cepat lelah, warna rambut berubah menjadi coklat kemudian memutih dan sering rontok, serta sering mendengar bunyi berdenging di belakang kupingnya. ”Kalau bernapas terasa nyangkut di sini,” katanya seraya menunjuk hulu hatinya. Akhirnya Ibu Wachyuddin menghubungi Hsen Chii namun kondisi tubuhnya sudah sangat lemah. Melalui telepon ketika menjelaskan tentang penayakitnya, suaranya sangat lirih dan terbata-bata. “ Hampir tidak terdengar suaranya”, demikian ujar sumber Hsen Chii. Ketika bertatap muka langsung, memang tampak penderitaan Ibu Wachyuddin dengan penyakit kanker payudara yang dideritanya. Kemudian dari sinilah dia mengenal Cordyceps Sobolifera, Hers, Ganoderma Applanatum, Coprinus Comatus (Manjusaka) yang terus di pergunakan sekarang.
Suatu perubahan di luar perkiraan. Kanker payudara yang diderita Ibu Wachyuddin menunjukkan kemajuan. Gumpalan daging yang tumbuh di dalam payudara sebesar telur ayam, secara bertahap mengecil lalu menyusut. Warna yang tadinya agak kemerahan pada putting susunya berubah menjadi warna hitam. Belakangan, payudara sebelah kiri itu mengempis. Posisinya lebih rendah daripada sebelah kanan”. Saya tidak mengerti mengapa kempis seperti itu, padahal saya tidak dioperasi,” katanya kepada Hsen Chii.
Recent Comments
4 weeks 2 days ago
5 weeks 5 days ago
7 weeks 4 days ago
7 weeks 5 days ago
7 weeks 5 days ago
7 weeks 5 days ago
8 weeks 4 days ago
9 weeks 1 day ago
9 weeks 1 day ago
9 weeks 1 day ago